10 Oktober 2026

Jacob Ereste: Hasil Muktamar ke-35 NU Diharapkan Menjaga Oase Spiritualitas Umat

Jacob Ereste berharap hasil Muktamar ke-35 NU mampu menjaga oase spiritual bagi umat.

kawankitanews.web.id— Penulis Jacob Ereste menyampaikan harapan agar hasil Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) mampu menjaga peran NU sebagai “oase” spiritual bagi umat di tengah dinamika politik, kompetisi kekuasaan, dan perubahan peradaban.

Jacob menyampaikan pandangan tersebut melalui tulisannya yang menyoroti perkembangan Muktamar ke-35 NU. Ia mengaitkan dinamika muktamar dengan gagasan Junaidi Jamsari yang menilai perjalanan NU memasuki abad kedua tidak cukup diukur dari kemajuan teknologi dan kecanggihan aplikasi, tetapi dari kemampuan menjaga kedalaman spiritual umat.

Menurut Jacob, NU memiliki tanggung jawab besar untuk mempertahankan nilai-nilai spiritual di tengah kehidupan yang semakin dipenuhi kompetisi kepentingan. Ia berharap organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut tetap mampu menghadirkan keteladanan bagi masyarakat.

Muktamar NU dan Dinamika Pemilihan Ketua

Jacob turut menyoroti mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU dan Rais Aam dalam Muktamar ke-35 NU. Ia merujuk laporan mengenai perubahan tradisi pemilihan yang berlangsung dalam muktamar.

Menurutnya, mekanisme pemilihan melalui Ahwa atau Ahlul Halli wal Aqdi serta kemungkinan voting menunjukkan dinamika organisasi yang perlu dikelola secara bijaksana.

Jacob menyebut terdapat 552 suara dalam proses tersebut, dengan satu suara dinyatakan tidak sah. Dari jumlah tersebut, 401 suara berasal dari peserta yang ditunjuk melalui mekanisme AHWA.

Ia menilai mekanisme musyawarah mufakat tetap menjadi pilihan utama. Namun, apabila musyawarah tidak menghasilkan kesepakatan, peserta akan menggunakan voting untuk menentukan kepemimpinan NU periode 2026–2031.

Harapan agar Hasil Pemilihan Diterima Semua Pihak

Jacob menilai proses pemilihan dalam Muktamar NU ke-35 membutuhkan kedewasaan seluruh pihak. Ia berharap setiap pihak dapat menerima hasil pemilihan apabila mekanisme voting akhirnya digunakan.

Menurutnya, perbedaan pilihan dalam organisasi merupakan hal yang wajar. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh menghilangkan tujuan utama NU dalam menjaga persatuan dan memberikan manfaat bagi umat.

Jacob juga mengingatkan pentingnya menjaga suasana muktamar agar kompetisi kepemimpinan tidak menggeser nilai-nilai spiritual yang menjadi salah satu fondasi NU.

Baginya, kemenangan seseorang dalam kontestasi kepemimpinan tidak boleh menjadi tujuan akhir. Kepemimpinan harus kembali diarahkan untuk menjalankan amanah organisasi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

NU Diharapkan Tetap Menjadi Oase Spiritual

Jacob menggunakan istilah “oase spiritual” untuk menggambarkan posisi penting NU dalam kehidupan umat. Ia berharap NU mampu menjadi tempat masyarakat menemukan ketenangan, keteladanan, dan panduan moral di tengah berbagai persoalan kehidupan.

Menurutnya, perkembangan peradaban yang semakin kompleks dapat membuat manusia semakin terjebak dalam orientasi duniawi. Kondisi tersebut membutuhkan organisasi keagamaan yang mampu menjaga keseimbangan antara kehidupan material dan spiritual.

Jacob menilai NU memiliki modal sejarah, tradisi keilmuan, serta jaringan ulama dan pesantren yang kuat untuk menjalankan peran tersebut.

Karena itu, hasil Muktamar ke-35 NU diharapkan tidak hanya menghasilkan struktur kepemimpinan baru, tetapi juga memperkuat arah perjuangan organisasi dalam menjaga nilai keagamaan dan kemanusiaan.

Keteladanan Menjadi Kunci

Jacob menegaskan bahwa umat membutuhkan sosok pemimpin yang dapat menjadi panutan. Pemimpin NU, menurutnya, harus mampu menunjukkan keteladanan melalui sikap, ucapan, dan kebijakan.

Ia berharap para pemimpin hasil Muktamar ke-35 NU dapat mengutamakan kepentingan umat serta menjaga persatuan di tengah perbedaan.

Bagi Jacob, NU tidak boleh kehilangan karakter spiritualnya hanya karena dinamika politik internal organisasi. Kompetisi kepemimpinan harus tetap berada dalam koridor etika, moral, dan nilai-nilai keagamaan.

Pada akhirnya, Jacob menitipkan harapan agar Muktamar ke-35 NU mampu melahirkan kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara organisatoris, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual.

NU, menurut Jacob, perlu terus menjaga “oase” spiritual bagi umat agar masyarakat memiliki pegangan moral dalam menghadapi perubahan zaman. Dengan demikian, perjalanan NU memasuki abad kedua dapat memberikan manfaat yang semakin luas dan tetap relevan dalam menjaga kehidupan umat serta peradaban bangsa.(Kontributor Yacob)

 

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *