kawankitanews.web.id — Budayawan dan pemerhati spiritualitas Jacob Ereste menyoroti pentingnya laku spiritual bagi pemimpin dan pejabat publik di tengah persoalan korupsi yang masih terjadi. Menurutnya, pemimpin membutuhkan kecerdasan spiritual agar mampu menjaga integritas dan menjalankan kekuasaan sebagai amanah rakyat.
Jacob menyampaikan pandangan tersebut dalam tulisannya bertanggal 30 Agustus 2026. Ia menilai spiritualitas tidak hanya berkaitan dengan pemahaman keagamaan, tetapi juga tercermin melalui sikap dan perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Jacob, spiritualitas bertumpu pada kejujuran, keikhlasan, kesabaran, kasih sayang, kerendahan hati, kesederhanaan, sikap pemaaf, serta kesediaan mendengar dan memahami pemikiran orang lain.
“Spiritualitas itu dasarnya kejujuran, keikhlasan, kesabaran, penuh kasih dan sayang, rendah hati, bersahaja, penuh pengertian, pemaaf dan mau mendengar dan memahami pemikiran serta pendapat orang lain,” tulis Jacob.
Ia menjelaskan, seseorang perlu memenuhi nilai-nilai tersebut untuk membangun kematangan spiritual. Jika seseorang mengabaikan salah satu nilai tersebut, menurut Jacob, ia perlu kembali melakukan pembenahan diri.
Spiritualitas Bangun Integritas Pemimpin
Jacob mengaitkan kematangan spiritual dengan tiga pilar utama, yakni etika, moral, dan ketenangan jiwa. Ia menjelaskan etika dapat tumbuh melalui tradisi, budaya, dan adat istiadat yang mengandung nilai kebaikan.
Sementara itu, moral membantu seseorang menjaga kebersihan hati. Ketenangan jiwa juga membuat seseorang mampu mengendalikan ambisi dan berbagai beban duniawi.
Menurut Jacob, ketiga unsur tersebut dapat memperkuat akhlak mulia. Ia memandang pemimpin yang memiliki kematangan spiritual akan lebih mampu menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh kesadaran.
Jacob juga mengangkat konsep sidratul muntaha dalam perspektif spiritual. Ia menjelaskan bahwa konsep tersebut tidak semata-mata menggambarkan sebuah tempat secara fisik.
Dalam filosofi Jawa, Jacob memaknai sidratul muntaha sebagai puncak suluk, yakni kondisi ketika manusia mencapai kejernihan dan ketenangan batin.
“Sidratul muntaha dalam filosofis Jawa dipahami sebagai puncak suluk,” tulisnya.
Ia juga memaknai suluk sebagai “jalan pulang” melalui laku batin. Dalam terminologi Islam, ia menghubungkannya dengan zikir, muraqabah, dan muhasabah.
Jacob menyebut pula konsep nrimo ing pandum yang mencakup zuhud, tawakal, dan rida atau ikhlas. Selain itu, konsep sungkem marang Gusti ia kaitkan dengan proses introspeksi atau muhasabah serta pertobatan.
Korupsi Tidak Cukup Dilawan dengan Penindakan
Jacob menilai kecerdasan spiritual sangat penting bagi pemimpin dan pejabat publik karena keputusan mereka menyangkut kepentingan serta hak masyarakat luas.
Ia berpandangan bahwa pemimpin perlu memiliki ketenangan hati agar tidak menyalahgunakan kewenangan. Pada saat yang sama, pemimpin harus mampu mengendalikan pikiran agar tidak terjebak dalam tindakan curang dan mengkhianati amanah rakyat.
“Pengetahuan serta kecerdasan spiritual itu sangat penting dan mutlak diperlukan guna menenteramkan hati agar tidak bertindak jahat serta menjinakkan pikiran supaya tidak berlaku curang dan khianat pada rakyat,” tulis Jacob.
Menurutnya, persoalan korupsi tidak hanya berkaitan dengan kerugian material, tetapi juga mencerminkan persoalan etika, moral, dan akhlak.
Jacob menilai kerusakan moral dapat membuka ruang bagi munculnya berbagai bentuk kejahatan. Ia bahkan menyoroti munculnya modus-modus baru dalam perkara korupsi, termasuk tindakan menggelapkan barang bukti yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi.
Karena itu, Jacob mendorong pendekatan yang tidak hanya mengandalkan penegakan hukum. Ia menilai perubahan karakter dan pembentukan integritas dari dalam diri juga perlu mendapat perhatian.
Menurut Jacob, laku spiritual pada akhirnya bertujuan mengubah manusia dari dalam dirinya sendiri. Dengan membangun kejujuran, menjaga moral, mengendalikan ego, dan memperkuat akhlak, pemimpin diharapkan mampu menjalankan kekuasaan secara bertanggung jawab serta menjauhkan diri dari perilaku koruptif.
Jacob menegaskan bahwa spiritualitas bukan sekadar pengetahuan atau keyakinan. Ia memandang spiritualitas harus hadir dalam tindakan nyata, terutama bagi mereka yang memegang amanah dan kewenangan publik.(Kontributor Yacob)

