8 Agustus 2026

Gangguan Listrik Ancam Industri Perunggasan Kalteng, Peternak Desak PLN Cari Solusi

Keterangan foto: Peternak ayam di Kalimantan Tengah menyampaikan aspirasi kepada PLN terkait dampak pemadaman listrik terhadap usaha perunggasan.

kawankitanews.web.id– Gangguan pasokan listrik yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah menjadi perhatian para pelaku usaha perunggasan. Peternak yang tergabung dalam Perhimpunan Insan Perunggasan (Pinsar) Kalimantan Tengah mendesak PLN segera menghadirkan solusi konkret untuk menjaga keandalan pasokan listrik demi keberlangsungan industri perunggasan.

Desakan tersebut disampaikan dalam aksi unjuk rasa di Kantor PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Palangka Raya, Rabu (29/7/2026). Dalam aksi itu, para peternak menyampaikan aspirasi sekaligus memprotes pemadaman listrik yang mereka nilai telah mengakibatkan kerugian besar.

Ketua Pinsar Kalimantan Tengah, Andi Bustan, mengatakan sebagian besar peternakan ayam modern di daerah tersebut menggunakan sistem close house yang bergantung pada pasokan listrik untuk mengoperasikan ventilasi, pendingin ruangan, serta berbagai peralatan pendukung lainnya.

Menurut Andi, gangguan listrik yang berlangsung hanya beberapa menit dapat menghentikan sistem sirkulasi udara di dalam kandang. Kondisi itu, katanya, berisiko menyebabkan kematian ayam dalam jumlah besar, terutama menjelang masa panen.

“Kalau kondisi ini terus berulang, peternak akan semakin terbebani. Selain harga ayam yang tidak stabil, kami juga harus menghadapi kerugian akibat pemadaman listrik,” ujarnya.

Andi menjelaskan sekitar 90 persen peternakan ayam di Kalimantan Tengah telah menerapkan sistem kandang tertutup atau close house. Karena itu, stabilitas pasokan listrik menjadi faktor utama dalam menjaga produktivitas dan kesehatan ternak.

Ia mengungkapkan satu kandang berkapasitas sekitar 40 ribu ekor ayam dapat mengalami kerugian hingga sekitar Rp360 juta apabila terjadi kematian massal akibat terganggunya sistem ventilasi. Jika pemadaman terjadi di banyak lokasi, total kerugian yang dialami pelaku usaha, menurutnya, dapat mencapai miliaran rupiah.

Selain berdampak pada peternak, Andi menilai gangguan pasokan listrik juga berpotensi mengurangi produksi daging ayam di Kalimantan Tengah. Kondisi tersebut dikhawatirkan memengaruhi pasokan di pasaran dan berdampak pada stabilitas harga.

Pinsar Kalimantan Tengah mencatat industri perunggasan di daerah tersebut melibatkan sedikitnya 12 perusahaan dengan sekitar 3.000 hingga 4.000 tenaga kerja. Oleh karena itu, mereka menilai keberlangsungan pasokan listrik tidak hanya penting bagi peternak, tetapi juga bagi ribuan pekerja yang menggantungkan mata pencaharian pada sektor tersebut.

Meski sebagian besar peternak telah menyediakan generator set (genset), Andi menegaskan bahwa penggunaan genset hanya menjadi solusi sementara. Biaya operasional yang tinggi dan kebutuhan bahan bakar menjadi kendala, terutama bagi peternakan yang berada jauh dari stasiun pengisian bahan bakar.

Melalui aksi tersebut, Pinsar Kalimantan Tengah meminta PLN memetakan kawasan peternakan sebagai wilayah yang memerlukan perhatian khusus dalam pengelolaan jaringan listrik. Mereka juga mengusulkan adanya langkah mitigasi yang dapat diterapkan saat terjadi gangguan pasokan listrik agar kerugian peternak dapat ditekan.

Para peternak berharap PLN segera membuka ruang dialog dan menyusun solusi bersama demi menjaga keberlangsungan industri perunggasan di Kalimantan Tengah. Menurut mereka, kolaborasi antara perusahaan penyedia listrik dan pelaku usaha menjadi kunci untuk menciptakan pasokan energi yang lebih andal.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak PLN terkait tuntutan yang disampaikan para peternak. Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi dari pihak PLN sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.(Herman)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *