kawankitanews.web.id – Penulis dan pemerhati sosial Jacob Ereste mengaitkan kisah Mahabharata dan perang Bharatayuda dengan dinamika politik kekuasaan serta fenomena budaya buzzer yang berkembang di era modern.
Ia menggunakan kisah pewayangan tersebut sebagai refleksi untuk melihat persoalan ambisi kekuasaan, politik adu domba, hingga konflik kepentingan yang terjadi dalam kehidupan sosial dan politik.
Dalam tulisannya berjudul “Kisah Mahabharata Dalam Perang Bharatayuda yang Terpaut dengan Cerita dari Negeri Konoha” yang ditulis di Serpong, 5 Juli 2026, Jacob menyoroti sikap sebagian manusia yang tetap mampu bertahan menghadapi berbagai cacian, makian, dan hujatan yang datang dari berbagai arah.
Menurut Jacob, kondisi tersebut dapat menggambarkan seseorang yang memiliki tingkat kepercayaan diri tinggi sehingga mampu mengabaikan kritik dan kecaman yang terus muncul.
Ia kemudian mengibaratkan situasi tersebut seperti hujan panah dalam perang Bharatayuda antara Pandawa dan Kurawa.
Jacob melihat kisah Bharatayuda tidak sekadar menggambarkan peperangan antara dua kelompok, tetapi juga menyimpan pesan filosofis tentang pertarungan Dharma melawan Adharma atau kebenaran melawan keserakahan.
Ia kemudian menghubungkan narasi tersebut dengan kondisi sosial dan politik di Indonesia yang menurutnya kerap menghadirkan perdebatan sengit di ruang publik, termasuk melalui media sosial.
“Inti masalah adalah hasrat untuk menguasai tahta kerajaan, meski secara formal sudah lengser keprabon,” tulis Jacob dalam opininya.
Jacob menggunakan istilah “negeri Konoha” sebagai simbol dalam membahas dinamika politik kekuasaan.
Ia juga mengaitkan kisah Sengkuni dalam Mahabharata dengan praktik politik adu domba yang menurutnya masih menemukan bentuk baru di era modern.
Menurut Jacob, karakter Sengkuni dapat menjadi gambaran mengenai sosok yang memainkan konflik dan memanfaatkan perpecahan untuk mencapai kepentingan tertentu.
Ia menilai pola tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk, termasuk dalam dinamika politik dan komunikasi di ruang digital,Jacob juga menyoroti fenomena budaya buzzer.
Ia menggambarkan buzzer sebagai bagian dari dinamika politik modern yang dapat memainkan peran dalam membentuk opini publik serta memperuncing konflik di tengah masyarakat.
Ia berpendapat bahwa perubahan zaman telah menggeser motif konflik dari sekadar persoalan dendam sosial menjadi persoalan ekonomi dan kepentingan materi.
Dalam pandangannya, sebagian orang dapat terlibat dalam berbagai aktivitas karena mendapatkan imbalan tertentu, meskipun harus mempertaruhkan reputasi dan harga diri.
Lebih jauh, Jacob mengkritik ambisi kekuasaan yang menurutnya dapat mendorong seseorang mengabaikan etika dan moral.
Ia menilai hasrat mempertahankan atau merebut kekuasaan dapat membawa seseorang pada berbagai persoalan hukum dan berujung pada hilangnya reputasi yang dibangun selama bertahun-tahun.
Jacob mengingatkan bahwa ambisi kekuasaan yang tidak terkendali dapat membawa konsekuensi panjang bagi seseorang dan keluarganya.
Ia menggambarkan hukuman hukum dan hilangnya reputasi sebagai risiko yang harus dihadapi ketika seseorang mengabaikan etika dan moral dalam mengejar kepentingan politik.
Melalui analogi Mahabharata dan kisah Bharatayuda, Jacob mengajak pembaca melihat kembali nilai-nilai moral yang terkandung dalam cerita pewayangan.
Ia menempatkan pertarungan Dharma dan Adharma sebagai refleksi atas persoalan kehidupan modern, termasuk ambisi kekuasaan, politik adu domba, dan budaya buzzer.
Tulisan Jacob tersebut pada akhirnya mengajak masyarakat untuk melihat dinamika politik dan sosial secara lebih kritis.
Ia menekankan pentingnya menjaga etika, moral, dan harga diri agar ambisi terhadap kekuasaan tidak berujung pada kehancuran reputasi maupun kehidupan seseorang (Kontributor Yacob )

