9 Agustus 2026

Diskusi GMRI Tegaskan Nilai Spiritual Nusantara sebagai Landasan Kepemimpinan

Keterangan foto: Peserta diskusi GMRI membahas nilai-nilai spiritual Nusantara sebagai fondasi kepemimpinan dan pembangunan karakter bangsa.

kawankitanews.web.id – Diskusi rutin Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI) kembali mengangkat isu kebangsaan dengan menekankan pentingnya nilai-nilai spiritual Nusantara sebagai landasan kepemimpinan.

Dalam forum yang berlangsung di Sekretariat GMRI, Jalan Ir. H. Juanda No. 4A, Jakarta Pusat, Rabu (9/7/2026), para peserta menilai kepemimpinan yang berakar pada etika, moral, dan spiritualitas menjadi kebutuhan mendesak di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa.

Budayawan Jacob Ereste bersama sejumlah tokoh, di antaranya Joyo Yudhantoro, Sri Eko Sriyanto Galdendu, Zainul, Sambang Sutjipto, dan Vgh. Tarno Tuna, mengikuti diskusi yang berlangsung secara santai namun membahas berbagai persoalan nasional secara mendalam.

Diskusi diawali dengan pembahasan sejumlah isu yang sedang menjadi perhatian publik, termasuk dinamika penegakan hukum di Indonesia.

Dari perbincangan tersebut, Jacob Ereste menyampaikan gagasan melalui tulisan bergaya satire yang mengibaratkan bangsa sebagai sebuah rumah yang memerlukan pembenahan menyeluruh agar kembali kokoh dan mampu memberikan kesejahteraan bagi seluruh penghuninya.

Pembahasan kemudian berkembang pada persoalan kemiskinan, kebodohan, serta pentingnya pemberantasan korupsi sebagai bagian dari upaya memperkuat kehidupan berbangsa.

Para peserta menilai berbagai persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan melalui pendekatan hukum semata, tetapi juga memerlukan penguatan karakter dan kesadaran moral.

Dalam forum itu, Jacob Ereste menegaskan bahwa pemimpin harus memiliki keberanian melakukan perubahan dengan tetap berpegang pada nilai-nilai etika, akhlak, dan spiritualitas.

Menurutnya, kepemimpinan yang hanya berorientasi pada kekuasaan dan kepentingan material akan sulit melahirkan keadilan serta kesejahteraan bagi masyarakat.

Diskusi juga menyoroti pentingnya menggali kembali akar spiritual leluhur Nusantara sebagai sumber nilai dalam membangun peradaban.

Para peserta berpandangan bahwa budaya Timur memiliki kekayaan spiritual yang menekankan pengendalian diri, kebijaksanaan, dan kedekatan manusia dengan Tuhan sebagai dasar dalam menjalankan kehidupan.

Menurut Jacob Ereste, pendekatan spiritual Nusantara mengajarkan manusia untuk menemukan kekuatan melalui pendalaman batin, bukan semata-mata dari faktor eksternal.

Nilai tersebut dinilai tetap relevan dalam membangun kepemimpinan yang jujur, bijaksana, dan berpihak kepada kepentingan rakyat.

Melalui diskusi rutin GMRI, para peserta berharap kesadaran terhadap nilai-nilai spiritual Nusantara terus tumbuh dan menjadi inspirasi bagi lahirnya pemimpin yang berintegritas.

Mereka meyakini perpaduan antara kecerdasan, moralitas, dan spiritualitas dapat menjadi fondasi penting dalam membangun Indonesia yang lebih adil, harmonis, dan bermartabat.(Kontributor Yacob)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *