9 Agustus 2026

Mahabharata dan Negeri Konoha Jadi Analogi Jacob Ereste untuk Mengkritik Politik Kekuasaan

Jacob Ereste menyampaikan refleksi politik dengan mengangkat analogi Mahabharata dan Negeri Konoha sebagai kritik terhadap praktik kekuasaan.

kawankitanews.web.id – Pengamat sosial dan penulis Jacob Ereste menggunakan kisah Mahabharata dan istilah “Negeri Konoha” sebagai analogi untuk mengkritik praktik politik kekuasaan yang dinilainya masih sarat dengan ambisi, persaingan, dan kepentingan pribadi. Pandangan tersebut disampaikan Jacob melalui tulisan reflektifnya yang ditulis di Serpong, Minggu (5/7/2026).

Jacob menilai kisah Perang Bharatayuda dalam Mahabharata tidak hanya menggambarkan pertarungan fisik antara Pandawa dan Kurawa, tetapi juga mengandung pesan moral mengenai pertarungan antara nilai kebenaran dan keserakahan.

Menurutnya, pesan tersebut tetap relevan untuk memahami berbagai dinamika politik pada masa kini.

Ia kemudian mengaitkan kisah itu dengan istilah “Negeri Konoha”, yang kerap digunakan masyarakat di media sosial sebagai metafora dalam membahas fenomena politik.

Menurut Jacob, simbol tersebut menggambarkan perebutan kekuasaan yang sering kali mengabaikan etika, moral, dan kepentingan publik.

“Mahabharata memberikan pelajaran bahwa ambisi yang tidak terkendali dapat melahirkan konflik berkepanjangan.

Politik seharusnya menjadi sarana mewujudkan kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar mempertahankan atau merebut kekuasaan,” ujarnya.

Jacob juga menyoroti tokoh Sengkuni dalam dunia pewayangan sebagai simbol strategi adu domba yang memicu perpecahan.

Ia menilai karakter tersebut sering dijadikan gambaran praktik politik yang mengandalkan provokasi, manipulasi opini, dan polarisasi demi mencapai tujuan tertentu.

Menurutnya, perkembangan media sosial membuat berbagai narasi politik semakin mudah menyebar dan memengaruhi persepsi publik.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk lebih kritis dalam menyaring informasi serta tidak mudah terprovokasi oleh berbagai isu yang belum tentu sesuai dengan fakta.

Jacob menegaskan bahwa kekuasaan seharusnya dijalankan dengan mengedepankan integritas, tanggung jawab, dan kepentingan rakyat.

Ia mengingatkan bahwa ambisi politik yang melampaui batas dapat merusak reputasi seseorang sekaligus mengikis kepercayaan publik terhadap lembaga maupun pemimpin.

Ia juga menilai setiap pemimpin perlu menjadikan etika dan moral sebagai dasar dalam mengambil kebijakan.

Menurutnya, keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari kemampuan mempertahankan jabatan, tetapi juga dari warisan nilai dan manfaat yang diberikan kepada masyarakat.

Melalui analogi Mahabharata dan Negeri Konoha, Jacob berharap masyarakat dapat memetik pelajaran dari kisah klasik tersebut sebagai bahan refleksi untuk membangun budaya politik yang lebih dewasa, menjunjung tinggi kejujuran, serta mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.(Kontributor Yacob)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *