23 Juni 2026

Reog Ponorogo Makin Mendunia, Kyai Lodra Rebut Piala Bergilir Presiden

Keterangan foto: Grup Reog Kyai Lodra dari Jawa Timur berhasil meraih Piala Bergilir Presiden pada Festival Nasional Reog Ponorogo 2026 setelah tampil memukau di hadapan dewan juri dan ribuan penonton.

Kawankitanews.web.id– Reog Ponorogo semakin mengukuhkan posisinya di panggung internasional setelah diakui sebagai Warisan Budaya Tak benda (Intangible Cultural Heritage) UNESCO pada Desember 2024. Pengakuan tersebut menjadi momentum penting bagi pelestarian kesenian khas Jawa Timur, sekaligus memacu lahirnya inovasi dalam menjaga eksistensi Reog tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisinya.

Semangat itu tercermin dalam Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXX Tahun 2026. Kelompok kesenian Kyai Lodra, yang mendapat fasilitasi dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur, berhasil meraih Piala Bergilir Presiden setelah tampil memukau di hadapan dewan juri dan ribuan penonton.

Festival Nasional Reog Ponorogo yang telah masuk dalam Top 10 Kharisma Event Nusantara Kementerian Pariwisata menjadi ajang bergengsi bagi para pelaku seni Reog dari berbagai daerah. Tahun ini, Disbudpar Jatim mempercayakan Kyai Lodra sebagai salah satu wakil yang membawa semangat regenerasi sekaligus peningkatan kualitas seni pertunjukan.

Pemilihan Kyai Lodra bukan tanpa alasan. Kelompok tersebut dihuni oleh para akademisi, tenaga pendidik, seniman, serta calon seniman dari berbagai perguruan tinggi dan sekolah seni. Mereka mengembangkan pertunjukan berdasarkan kajian akademis sehingga tetap memegang teguh pakem, nilai budaya, dan hukum adat yang menjadi fondasi Reog Ponorogo.

Selama hampir tiga bulan, para anggota menjalani proses pembinaan intensif. Mereka melakukan riset, menyusun konsep pertunjukan, mengembangkan koreografi, memperkuat kualitas artistik, hingga menyesuaikan penyajian dengan perkembangan seni pertunjukan modern tanpa menghilangkan jati diri Reog.

Disbudpar Jatim juga menitikberatkan pembinaan kepada para seniman yang belum pernah tampil di Festival Nasional Reog Ponorogo. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi regenerasi agar semakin banyak generasi muda memperoleh kesempatan mengembangkan kemampuan di panggung nasional.

Program pembinaan serupa juga diterapkan pada berbagai kesenian tradisional Jawa Timur, seperti ludruk, jaranan, campursari, kesenian Tengger, hingga seni Banyuwangi. Melalui pembinaan berkelanjutan, pemerintah provinsi terus mendorong peningkatan standar kualitas pertunjukan sekaligus memperluas akses para pelaku seni terhadap program pelestarian budaya.

Usaha tersebut membuahkan hasil membanggakan. Penampilan Kyai Lodra dinilai mampu menghadirkan pembaruan dalam kemasan pertunjukan tanpa meninggalkan esensi Reog Ponorogo. Perpaduan antara kreativitas, disiplin, dan penghormatan terhadap tradisi mengantarkan kelompok tersebut meraih Piala Bergilir Presiden sebagai penampil terbaik pada FNRP XXX.

Keberhasilan Kyai Lodra menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan inovasi. Di tengah pengakuan dunia terhadap Reog Ponorogo, regenerasi seniman dan peningkatan kualitas pertunjukan menjadi kunci agar warisan budaya tersebut terus hidup, berkembang, dan semakin dikenal di tingkat internasional.(Red)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *