kawankitanews.web.id– Pengamat sosial Jacob Ereste menilai aksi mahasiswa yang kembali marak di berbagai daerah menunjukkan semakin kuatnya kebutuhan masyarakat akan ruang demokrasi yang mampu menampung kritik dan aspirasi publik. Menurutnya, demonstrasi yang dilakukan mahasiswa tidak dapat dipandang sekadar sebagai bentuk protes, melainkan cerminan dari kegelisahan masyarakat yang merasa suaranya belum terakomodasi secara optimal.
Jacob mengatakan mahasiswa selama ini kerap menjadi kelompok yang menyuarakan berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan politik yang berkembang di tengah masyarakat. Karena itu, meningkatnya intensitas aksi mahasiswa dinilai memiliki keterkaitan erat dengan ketidakpuasan publik terhadap berbagai kebijakan dan tata kelola pemerintahan.
“Ketika kritik masyarakat tidak memperoleh ruang yang memadai untuk didengar dan ditindaklanjuti, mahasiswa sering mengambil peran untuk menyampaikan aspirasi tersebut melalui aksi-aksi publik,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (16/6/2026).
Menurut Jacob, mahasiswa tidak hanya menyuarakan kepentingan kampus atau kelompok tertentu. Mereka juga membawa berbagai keluhan masyarakat terkait persoalan ekonomi, pelayanan publik, pemberantasan korupsi, hingga kualitas demokrasi yang dirasakan sebagian kalangan belum berjalan sebagaimana harapan.
Ia menilai demokrasi yang sehat membutuhkan komunikasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat. Oleh karena itu, kritik yang muncul dari berbagai elemen bangsa seharusnya dipandang sebagai masukan untuk memperbaiki kebijakan, bukan sebagai ancaman terhadap stabilitas pemerintahan.
Jacob juga mengingatkan bahwa sejarah bangsa Indonesia menunjukkan mahasiswa memiliki peran penting dalam mendorong perubahan sosial dan politik. Dari masa pergerakan nasional hingga era reformasi, mahasiswa kerap menjadi bagian dari kekuatan moral yang menyuarakan kepentingan rakyat.
“Mahasiswa memiliki tanggung jawab moral dan sosial. Mereka sering menjadi jembatan antara aspirasi masyarakat dengan pengambil kebijakan ketika saluran formal dianggap tidak berjalan efektif,” katanya.
Selain itu, Jacob menyoroti pentingnya peran lembaga perwakilan rakyat dalam menyerap dan memperjuangkan aspirasi masyarakat. Menurutnya, jika fungsi representasi berjalan optimal, berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat dapat diselesaikan melalui mekanisme demokrasi yang tersedia tanpa harus berujung pada ketegangan sosial.
Ia juga mengajak pemerintah untuk lebih terbuka terhadap kritik dan masukan dari berbagai kelompok masyarakat. Dengan membuka ruang dialog yang konstruktif, pemerintah dapat memperkuat kepercayaan publik sekaligus meningkatkan kualitas kebijakan yang dihasilkan.
“Pemerintah perlu melihat kritik sebagai bagian dari kontrol sosial yang wajar dalam sistem demokrasi. Semakin terbuka ruang dialog, semakin besar peluang terciptanya solusi yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Jacob menegaskan bahwa aksi mahasiswa yang berlangsung di berbagai daerah merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu, seluruh pihak perlu mengedepankan dialog, saling menghormati, dan semangat mencari solusi bersama.
Ia berharap pemerintah, mahasiswa, akademisi, dan masyarakat dapat membangun komunikasi yang lebih baik agar berbagai persoalan bangsa dapat diselesaikan secara demokratis, transparan, dan berpihak pada kepentingan rakyat.(Kontributor Yacob)

