11 Juni 2026

Tripartit Kalsel Ziarahi Makam Marsinah, Perkuat Komitmen Hubungan Industrial Harmonis

Ziarah Marsinah: Rombongan Tripartit Kalsel berziarah ke makam Marsinah di Nganjuk sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan hak-hak pekerja dan penguatan hubungan industrial yang harmonis.

kawankitanews.web.id– Rombongan Tripartit Kalimantan Selatan (Kalsel) melakukan ziarah ke makam Marsinah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada 4 Juni 2026.

Kunjungan tersebut menjadi simbol komitmen bersama antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja untuk memperkuat hubungan industrial yang harmonis, adil, dan berkelanjutan.

Rombongan yang berjumlah 32 orang itu dipimpin Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kalimantan Selatan, Irfan Sayuti.

Turut mendampingi Ketua DPD Apindo Kalsel Winardi Sethiono dan Ketua KSPSI Kalsel Sadin Sasau sebagai perwakilan unsur pengusaha dan pekerja.

Selain berziarah ke makam Marsinah, rombongan juga mengunjungi Museum Marsinah yang menyimpan berbagai dokumentasi perjalanan hidup dan perjuangan aktivis buruh tersebut.

Mereka memanfaatkan kesempatan itu untuk mempelajari sejarah perjuangan pekerja sekaligus memperkuat semangat dialog dalam hubungan industrial.

Kepala Disnakertrans Kalsel Irfan Sayuti menilai perjuangan Marsinah memberikan pelajaran penting bagi seluruh pemangku kepentingan ketenagakerjaan.

Menurutnya, kesejahteraan pekerja dan keberlanjutan dunia usaha harus berjalan beriringan melalui komunikasi yang terbuka dan saling menghormati.

“Perjuangan Marsinah mengingatkan kita bahwa hubungan industrial yang sehat harus dibangun melalui dialog, bukan konflik.

Buruh, pengusaha, dan pemerintah harus duduk bersama mencari solusi terbaik untuk kepentingan bersama,” ujarnya.

Marsinah dikenal sebagai buruh perempuan yang berani memperjuangkan hak-hak pekerja pada awal 1990-an.

Lahir dari keluarga petani sederhana di Nganjuk pada 10 April 1969,

ia menjadi simbol keberanian dalam memperjuangkan keadilan bagi kaum pekerja.

Keberaniannya menyuarakan hak-hak buruh berujung pada tragedi ketika ia ditemukan meninggal dunia pada 9 Mei 1993.

Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah gerakan buruh Indonesia.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan Tripartit Kalsel juga bersilaturahmi dengan keluarga Marsinah.

Mereka berdialog dan mendengarkan berbagai cerita mengenai kehidupan serta perjuangan Marsinah yang hingga kini masih dikenang oleh masyarakat.

Ketua DPD Apindo Kalsel Winardi Sethiono mengatakan hubungan industrial yang harmonis menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi dan keberlangsungan dunia usaha.

Karena itu, seluruh pihak harus terus mengedepankan komunikasi dalam menyelesaikan berbagai persoalan ketenagakerjaan.

Sementara itu, Ketua KSPSI Kalsel Sadin Sasau menegaskan bahwa perjuangan Marsinah tidak boleh dilupakan.

Menurutnya, semangat memperjuangkan hak pekerja harus diwujudkan melalui cara-cara yang konstruktif dan dialogis agar tercipta keseimbangan antara kepentingan pekerja dan pengusaha.

Selama berada di Museum Marsinah, peserta mempelajari berbagai arsip,

foto, dan dokumentasi yang menggambarkan perjalanan perjuangan buruh di Indonesia.

Mereka juga mendalami pentingnya perlindungan hak-hak pekerja, termasuk hak atas upah layak, tunjangan, cuti, dan jaminan kesejahteraan lainnya.

Kunjungan tersebut semakin memperkuat keyakinan peserta bahwa hubungan industrial yang harmonis hanya dapat terwujud ketika pemerintah,

pengusaha, dan pekerja membangun kemitraan yang setara.

Melalui dialog yang berkesinambungan, ketiga unsur tersebut dapat menciptakan iklim kerja yang produktif sekaligus meningkatkan kesejahteraan bersama.

Tripartit Kalsel berharap semangat perjuangan Marsinah dapat menjadi inspirasi bagi seluruh pihak untuk terus menjaga komunikasi,

memperkuat kerja sama, dan mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan berbagai tantangan di dunia ketenagakerjaan.(Herman)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *