kawankitanews.web.id – Praktisi kebudayaan di Surabaya menyoroti meningkatnya polarisasi di kalangan komunitas seni dan pegiat budaya Kota Pahlawan. Kondisi tersebut dinilai mulai memengaruhi iklim kreativitas dan ruang dialog kebudayaan yang selama ini menjadi kekuatan utama Surabaya sebagai kota seni dan kota perjuangan.
Sorotan itu disampaikan kolumnis dan pengajar psikologi komunikasi, M. Isa Ansori melalui tulisan reflektifnya mengenai dinamika kebudayaan di Surabaya.
Dalam pandangannya, konflik yang berkembang saat ini bukan lagi sekadar perbedaan pandangan artistik atau estetika, melainkan sudah mengarah pada perebutan legitimasi dan representasi kebudayaan kota.
“Komunitas saling membaca sebagai ancaman. Kritik diterjemahkan sebagai serangan. Perbedaan dianggap pengkhianatan,” tulis Isa dalam refleksinya.
Ia menilai kondisi tersebut membuat ruang-ruang kebudayaan di Surabaya perlahan kehilangan fungsi utamanya sebagai tempat dialog dan pertukaran gagasan. Energi komunitas seni yang seharusnya digunakan untuk menciptakan karya dan memperkuat ekosistem budaya justru habis untuk konflik internal dan perebutan pengaruh.
Menurut Isa, meningkatnya polarisasi terlihat dari munculnya sekat antar komunitas, perebutan ruang pertunjukan, hingga perdebatan tentang siapa yang paling layak mewakili kebudayaan Surabaya di hadapan publik maupun pemerintah.
Situasi itu juga terlihat dalam dinamika di Balai Pemuda Surabaya yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas seni dan kebudayaan di Kota Pahlawan.
Isa menilai Balai Pemuda kini tidak lagi dipandang sekadar ruang publik untuk berkesenian, melainkan telah berubah menjadi simbol legitimasi dan pengaruh kebudayaan.
“Siapa yang dekat dengan ruang itu dianggap memiliki legitimasi. Siapa yang jauh darinya merasa disingkirkan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa semua kelompok seni sebenarnya memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga dan memperkuat kebudayaan kota. Namun perbedaan cara pandang dan kepentingan sering kali membuat komunikasi antarkelompok menjadi tidak sehat.
Sebagian komunitas, kata Isa, mendorong pengelolaan kebudayaan yang lebih formal dan terstruktur agar mendapatkan dukungan kebijakan pemerintah. Sementara kelompok lain ingin mempertahankan independensi seni agar tidak terlalu dekat dengan kekuasaan.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah kota dinilai menghadapi tantangan besar untuk menjaga keseimbangan antara pengelolaan kebudayaan dan kebebasan berekspresi komunitas seni.
Isa mengingatkan Surabaya memiliki sejarah panjang sebagai kota yang melahirkan berbagai bentuk seni rakyat, mulai dari ludruk, teater jalanan, puisi rakyat, hingga musik alternatif yang tumbuh dari komunitas akar rumput.
Karena itu, ia berharap seluruh elemen kebudayaan di Surabaya dapat kembali membuka ruang dialog dan membangun kerja sama lintas komunitas.
“Kebudayaan yang sehat bukanlah kebudayaan tanpa konflik. Kebudayaan yang sehat adalah kebudayaan yang mampu mengubah perbedaan menjadi percakapan,” tulisnya.
Tulisan tersebut kini menjadi bahan diskusi di sejumlah forum kebudayaan dan komunitas seni di Surabaya. Banyak pegiat budaya berharap dinamika yang berkembang tidak justru memecah ekosistem seni, melainkan menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas dan ruang dialog kebudayaan di Kota Pahlawan.(Geng)

