25 April 2026

Akal Terbatas, Batin Tak Bertepi: Telaah Filsafat dan Spiritualitas

Jacob Ereste menyampaikan pemikiran tentang hubungan filsafat dan spiritualitas dalam kehidupan manusia.
Jacob Ereste menyampaikan pemikiran tentang hubungan filsafat dan spiritualitas dalam kehidupan manusia.

kawankitanews.web.id – Pemikiran tentang batas kemampuan akal dan keluasan batin kembali disoroti oleh Jacob Ereste dalam telaahnya mengenai filsafat dan spiritualitas.

Ia menegaskan bahwa manusia tidak bisa sepenuhnya mengandalkan nalar dalam memahami realitas kehidupan. Akal memiliki batas, sementara batin dan spiritualitas justru membuka ruang pemahaman yang lebih luas dan mendalam.

Menurutnya, banyak fenomena kehidupan yang tidak dapat dijelaskan secara logis, termasuk peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Secara ilmiah, perjalanan tersebut dapat dianalisis melalui pendekatan kecepatan cahaya, namun makna hakikinya hanya dapat dipahami melalui pendekatan spiritual.

Dalam kajian Filsafat, manusia diajak berpikir kritis dan sistematis untuk mencari kebenaran. Filsafat bahkan dikenal sebagai induk dari berbagai cabang ilmu karena kemampuannya mengurai sebab dan akibat dari setiap peristiwa.

Namun, dominasi intelektualitas tanpa keseimbangan spiritual dinilai berpotensi menimbulkan krisis nilai. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat sering kali tidak diiringi dengan penguatan moral dan etika.

“Ketika akal menjadi pusat utama, manusia berisiko kehilangan arah karena mengabaikan dimensi batin yang justru menjadi sumber nilai,” ujarnya.

Ia juga menyoroti bahwa budaya, tradisi, dan adat istiadat memiliki peran penting dalam membentuk karakter manusia. Nilai-nilai tersebut melahirkan kesadaran akan etika, rasa malu, serta martabat yang tidak selalu bisa dijelaskan secara rasional.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dalam filsafat terdapat pendekatan ontologis, epistemologis, dan aksiologis untuk memahami realitas. Namun demikian, spiritualitas tetap berada di wilayah yang sulit dijangkau sepenuhnya oleh akal manusia.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengandalkan kecerdasan intelektual, tetapi juga memperkuat dimensi spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui keseimbangan antara akal dan batin, manusia dinilai mampu membangun kehidupan yang lebih harmonis, beradab, dan bermakna di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks.(Red)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *