Kawankitanews.web.id— Penulis Jacob Ereste menyoroti pentingnya membangun kesadaran spiritual sebagai bagian dari upaya manusia menghadapi perubahan zaman dan membangun peradaban yang lebih baik. Menurutnya, manusia perlu mempertemukan kecerdasan intelektual dengan kedalaman spiritual agar kehidupan tidak hanya bertumpu pada kemampuan material.
Pandangan tersebut Jacob Ereste sampaikan dalam tulisan berjudul “Membangun Kesadaran Spiritual Dalam Dimensi dan Frekuensi Dari Bumi Menggapai Langit”, yang ditulis di Banten pada 28 Agustus 2026.
Dalam tulisannya, Jacob mengangkat gagasan diplomasi spiritual global yang dipersiapkan Wali Spiritual Nusantara, Sri Eko Sriyanto Galgendu, bersama Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI).
Gagasan tersebut antara lain berkaitan dengan sosialisasi “Kitab MA HA IS MA YA”, sebuah buku yang memuat kumpulan doa dan menjadi bagian dari gerakan yang mengusung kesadaran spiritual.
Kitab MA HA IS MA YA Dibawa ke Berbagai Kota
Jacob menjelaskan bahwa sosialisasi kitab tersebut sebelumnya dirancang melalui pertemuan dengan tokoh dan pemuka agama di Jakarta. Agenda tersebut berlangsung pada 2–3 Agustus 2025.
Menurut Jacob, Kitab MA HA IS MA YA memiliki lebih dari 300 halaman dan memuat 79 doa. Ia melihat kehadiran kitab tersebut sebagai salah satu upaya untuk memperkenalkan gagasan spiritual yang berasal dari tradisi Nusantara kepada masyarakat yang lebih luas.
Sosialisasi kitab itu juga direncanakan berlangsung di sejumlah kota besar Indonesia, seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Bali, sebelum gagasan tersebut diperkenalkan ke berbagai negara.
Jacob menyebut pendekatan tersebut membawa pesan tentang pentingnya mendoakan orang lain. Menurutnya, masyarakat selama ini lebih sering memanjatkan doa untuk kepentingan diri sendiri, sementara mendoakan sesama dapat menjadi bagian dari upaya membangun kepedulian dan kesadaran bersama.
Nusantara dan Gagasan Peradaban Baru
Dalam perspektif yang disampaikan Jacob, kebangkitan kesadaran spiritual dari Nusantara dapat menjadi bagian dari proses menuju perubahan peradaban.
Ia mengutip pandangan Sri Eko Sriyanto Galgendu yang melihat perubahan besar dunia sebagai bagian dari siklus sejarah. Pandangan tersebut menempatkan nilai-nilai universal sebagai salah satu fondasi dalam membangun hubungan antarmanusia tanpa sekat geografis maupun perbedaan kawasan.
Konsep tersebut membayangkan dunia yang tidak lagi terjebak dalam sekat Timur dan Barat maupun Utara dan Selatan. Dalam gagasan itu, Nusantara atau Indonesia mendapat posisi penting sebagai salah satu titik yang membawa pesan spiritual universal.
Jacob menilai gagasan tersebut perlu dipahami sebagai upaya membangun kesadaran, bukan sekadar gerakan simbolik. Ia menempatkan spiritualitas sebagai bagian penting dalam perjalanan manusia menghadapi berbagai perubahan kehidupan.
Intelektual dan Spiritualitas Perlu Berjalan Bersama
Jacob juga mengkritik kecenderungan manusia yang terlalu mengandalkan kemampuan intelektual dan material. Menurutnya, kecerdasan tanpa kesadaran spiritual dapat mendorong manusia mengembangkan kesombongan dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.
Ia menilai manusia perlu membersihkan keangkuhan dan kepongahan melalui keikhlasan, kerendahan hati, serta keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Besar.
Dalam pandangannya, kesadaran spiritual membantu manusia memahami keterbatasan dirinya. Sebesar apa pun kemampuan intelektual yang dimiliki seseorang, kehidupan tetap memiliki batas dan manusia pada akhirnya menghadapi kematian sebagai bagian dari hukum kehidupan.
Karena itu, Jacob mendorong manusia untuk tidak mempertentangkan intelektualitas dengan spiritualitas. Keduanya justru perlu berjalan beriringan agar kemajuan manusia menghasilkan kehidupan yang lebih bermakna.
Membangun Kesadaran dari Bumi Menggapai Langit
Jacob menggambarkan pembangunan kesadaran spiritual sebagai perjalanan dari bumi menuju langit. Perjalanan tersebut menuntut manusia untuk mengurangi kesombongan, membuka diri terhadap nilai-nilai spiritual, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama.
Ia memandang upaya memperkenalkan Kitab MA HA IS MA YA sebagai salah satu bagian dari gagasan tersebut. Melalui doa, refleksi, dan penguatan kesadaran batin, manusia diharapkan dapat membangun hubungan yang lebih baik dengan sesama maupun dengan Sang Pencipta.
Pada akhirnya, Jacob menegaskan bahwa perkembangan intelektual perlu mendapatkan keseimbangan dari kesadaran spiritual. Kemajuan peradaban tidak cukup hanya mengandalkan kecanggihan ilmu pengetahuan dan kemampuan manusia menguasai dunia material.
Manusia juga perlu membangun kerendahan hati, keikhlasan, dan kesadaran terhadap dimensi spiritual. Dari sinilah, menurut Jacob, manusia dapat memulai perjalanan membangun peradaban yang lebih baik, dengan kesadaran dari bumi untuk menggapai langit.(Kontributor Yacob)

