kawankitanews.web.id — Pertunjukan seni “Merajoet Senja” akan hadir di Gedung Kesenian Jakarta pada 26 Agustus 2026 pukul 19.00 WIB. Pentas kolaborasi yang digagas Dr. Yudi Latif tersebut membawa pesan tentang pentingnya merawat harapan, semangat perjuangan, dan sikap pantang menyerah.
Jacob Ereste menilai “Merajoet Senja” tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk merenungkan kembali makna kemerdekaan. Ia melihat seni memiliki kekuatan untuk mengolah rasa, menyalakan harapan, dan mendorong manusia menghadapi kehidupan dengan semangat yang tidak mudah padam.
Menurut Jacob, olah rasa, olah cipta, dan olah karsa dapat menjadi bagian dari perjalanan spiritual manusia. Ketiganya membantu seseorang melakukan refleksi diri sekaligus membangun kesadaran untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Pertunjukan “Merajoet Senja” melibatkan sejumlah artis dan aktor yang memiliki rekam jejak di dunia seni, antara lain Olivia Zalianty, Marcella Zalianty, Arswendy Bening Swara, Ariansyah, Edopaha, Tanta Ginting, Isya Saravaty, Fryda Lucyana, Janne Callista, Shanna Shannon, dan Ridho Rokhanah.
Yudi Latif menjelaskan bahwa pementasan tersebut juga menjadi bagian dari ikhtiar penggalangan dana bagi para pegiat seni dan budaya yang mengalami ketidakberuntungan. Ia ingin menjaga keberlangsungan kehidupan para seniman yang selama ini ikut mewarnai masyarakat melalui karya dan kreativitas.
Jacob menilai langkah tersebut menunjukkan bahwa seni memiliki dimensi sosial yang kuat. Seni tidak hanya menghibur masyarakat, tetapi juga dapat membangun solidaritas dan kepedulian terhadap sesama.
Ia juga mengaitkan peran seni dengan perjalanan kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, bangsa Indonesia telah menggunakan seni sebagai salah satu medium untuk mengekspresikan gagasan dan membayangkan kehidupan yang merdeka.
Sejumlah tokoh perjuangan juga memiliki hubungan erat dengan kesenian. Soekarno menulis dan mementaskan drama ketika berada di Ende. Mohammad Hatta menulis puisi, sedangkan Sutan Sjahrir terlibat dalam kelompok tonil dan memainkan biola. Mohammad Natsir juga memiliki perhatian terhadap dunia seni.
“Merajoet Senja” kemudian menjadi momentum untuk kembali melihat seni sebagai bagian dari perjalanan kebangsaan. Jacob berharap masyarakat tidak hanya menikmati pertunjukan, tetapi juga menangkap pesan yang terkandung di dalamnya.
Yudi Latif menyebut “Merajoet Senja” sebagai perjalanan kembali ke mata air, yakni kembali kepada dunia yang pernah membentuk diri sekaligus menjaga agar nilai-nilai tersebut terus mengalir.
Bagi Jacob, pesan tersebut semakin penting ketika masyarakat memperingati 81 tahun kemerdekaan Indonesia. Ia mengajak masyarakat menjadikan momentum kemerdekaan sebagai kesempatan untuk memperkuat kembali semangat perjuangan.
Menurutnya, kemerdekaan tidak cukup dirayakan melalui kegiatan seremonial. Masyarakat juga perlu menjaga nilai, harapan, dan semangat yang melahirkan perjuangan bangsa.
Melalui “Merajoet Senja”, Jacob berharap seni kembali menjadi ruang untuk menyalakan cahaya perjuangan. Ia menegaskan bahwa semangat hidup tidak boleh surut dan masyarakat harus terus menjaga elan vital perjuangan agar tidak berhenti pada keadaan sulit.
Pementasan di Gedung Kesenian Jakarta itu diharapkan mampu mempertemukan seni, refleksi kebangsaan, kepedulian sosial, dan semangat pantang menyerah dalam satu panggung.(Kontributor Yacob)

