15 Agustus 2026

Jacob Ereste Bahas Materialisme dan Spiritualisme dalam Budaya Nusantara

Jacob Ereste membahas materialisme dan spiritualisme dalam budaya Nusantara.

kawankitanews.web.id– Penulis dan pemerhati kebudayaan Jacob Ereste membahas hubungan materialisme dan spiritualisme dalam tradisi serta budaya suku bangsa Nusantara yang berkembang menjadi bagian dari Indonesia. Ia menilai masyarakat perlu kembali memahami nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur agar tidak kehilangan pijakan moral dan spiritual.

Dalam tulisannya bertanggal 29 Juli 2026, Jacob menekankan bahwa masyarakat dapat menguji kualitas seseorang melalui karya dan hasil yang memberikan manfaat bagi pihak lain. Menurutnya, seseorang tidak cukup mengandalkan klaim atas kualitas yang dimilikinya.

Jacob juga menyoroti penggunaan gelar dalam kehidupan sosial. Ia menyebut gelar adat, akademik, dan keagamaan memiliki nilai serta tanggung jawab yang besar bagi penyandangnya.

Ia mengingatkan bahwa seseorang sebaiknya tidak menggunakan gelar hanya untuk membangun citra diri. Menurut Jacob, sikap rendah hati dan kemampuan mempertanggungjawabkan kapasitas justru menunjukkan kualitas seseorang.

Untuk menggambarkan pandangannya, Jacob menggunakan analogi telepon genggam. Ia menjelaskan bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan perangkat dengan kualitas baik, tetapi juga membutuhkan kemampuan untuk mengoperasikan perangkat tersebut secara tepat.

“Jadi, harus dapat dipahami juga antara kualitas hand phone dengan kemampuan dan keahlian kita mengoperasionalkan hand phone tersebut,” tulis Jacob.

Jacob kemudian mengangkat keberadaan gelar dan julukan dalam tradisi keluarga serta masyarakat Nusantara. Ia mencontohkan sejumlah sebutan yang berkembang dalam lingkungan budaya tertentu dan menjelaskan bahwa gelar atau julukan tersebut biasanya lahir dari pengakuan keluarga maupun komunitas.

Menurutnya, sebutan seperti Mas, Romo, Lay, Ucok, Pariban, Pak Uda, dan Inang Tua juga menunjukkan bentuk kedekatan sosial dalam kehidupan masyarakat. Sebutan tersebut menciptakan suasana kekeluargaan yang lebih hangat dan akrab.

Jacob mempertanyakan kondisi tradisi dan budaya saat ini yang menurutnya semakin kehilangan nilai etika, budi pekerti, moral, dan akhlak. Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan semakin kuatnya pengaruh materialisme dalam kehidupan masyarakat.

Ia juga mengajak masyarakat merenungkan kembali posisi spiritualisme dalam kehidupan sosial. Menurut Jacob, nilai-nilai spiritual perlu mendapat ruang agar perkembangan kehidupan modern tidak membuat masyarakat melupakan warisan budaya dan kearifan leluhur.

Pada bagian akhir tulisannya, Jacob mengajak masyarakat kembali menggali nilai-nilai yang diwariskan para leluhur suku bangsa Nusantara. Ia berharap nilai tersebut dapat menjadi bahan refleksi dalam upaya memahami kembali perjalanan bangsa Indonesia dan cita-cita Proklamasi.

Melalui pemikiran tersebut, Jacob menegaskan pentingnya menempatkan gelar, tradisi, materialisme, dan spiritualisme secara proporsional. Ia mendorong masyarakat untuk mengutamakan kualitas diri, karya, kerendahan hati, serta nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.(Kontributor Yacob)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *