13 Agustus 2026

Kudus Angkat Soto Kerbau sebagai Simbol Toleransi

Keterangan foto: Soto kerbau Kudus menjadi simbol toleransi dan kearifan budaya masyarakat.

kawankitanews.web.id– Soto kerbau menjadi salah satu kuliner khas yang merepresentasikan nilai toleransi dan kearifan budaya masyarakat Kudus, Jawa Tengah. Tradisi tersebut kembali mendapat perhatian dalam rangkaian Gebyar Budaya Nusantara yang berlangsung di Majesty Grand Ballroom Hotel Griptha, Kudus, 11 Agustus 2026.

Gebyar Budaya Nusantara mempertemukan aktivis budaya dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah. Mereka mendorong pelestarian seni, budaya, kuliner, serta kerajinan daerah sebagai bagian dari penguatan budaya nasional.

Tokoh spiritual Indonesia Sri Eko Sriyanto Galgendu menilai kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran budaya dan spiritual masyarakat. Ia menyebut pertemuan para aktivis budaya di Kudus sebagai pesamuan agung “Raja Wali”, yang menggambarkan perpaduan nilai kepemimpinan dan spiritualitas dalam sejarah pesisir utara Pulau Jawa.

Panitia juga menggagas pembentukan “Rumah Budaya” di 17 kabupaten dan kota se-Jawa Tengah. Rumah Budaya tersebut diharapkan menjadi ruang bersama bagi para aktivis untuk melestarikan dan mengembangkan seni serta budaya daerah.

Dalam kegiatan tersebut, panitia menampilkan berbagai tarian dengan narasi mitologi Jawa. Panitia juga menyerahkan buku Ensiklopedi Sunan Kalijaga, sementara Sri Eko Sriyanto Galgendu memberikan Kitab MA HA IS MA YA kepada sejumlah tokoh dan pejabat Kabupaten Kudus.

Para peserta kemudian menyampaikan deklarasi untuk menjaga dan mengembangkan budaya daerah. Mereka menilai pelestarian budaya dapat menjadi bentuk pengabdian kepada bangsa sekaligus membangun karakter generasi muda.

Usai kegiatan, sahabat dan kerabat Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI) menikmati Soto Kerbau khas Kudus. Kuliner tersebut memiliki cerita budaya yang kuat karena masyarakat Kudus secara turun-temurun memilih daging kerbau sebagai bahan utama sejumlah hidangan yang sebelumnya banyak menggunakan daging sapi.

Tradisi tersebut kerap dikaitkan dengan penghormatan terhadap umat Hindu yang memandang sapi sebagai hewan suci dan sakral. Pilihan menggunakan daging kerbau kemudian berkembang menjadi salah satu identitas kuliner Kudus sekaligus simbol penghormatan terhadap keberagaman keyakinan.

Nilai toleransi itu juga terlihat ketika rombongan melanjutkan silaturahmi ke kediaman Eyang RM Bambang Soeryadhi Soeryodhoharjo di Kadilangu, Demak. Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana kekeluargaan dan membahas berbagai pengalaman serta nilai kehidupan.

Rombongan kemudian mengunjungi Pesanggrahan Tri Utomo di Kudus. Tempat tersebut menjadi ruang pertemuan lintas agama dan mendorong dialog antartokoh agama untuk menjaga kerukunan masyarakat.

Kehadiran Soto Kerbau dalam rangkaian silaturahmi tersebut akhirnya tidak hanya menghadirkan kekayaan kuliner lokal.

Tradisi itu juga mengingatkan masyarakat bahwa budaya dapat menjadi jembatan untuk merawat toleransi, menghormati keyakinan, dan memperkuat kerukunan antarumat beragama.(Kontributor Yacob)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *